Cinta yang salah

Posted Rabu, 08 Februari 2012 by Tara Winda Ertalia

Malam yang dingin di sertai dengan hujan ini mengharuskan aku menghantarkan bayi tak berdosa ini ke sebuah panti asuhan terpencil di kota bandung ini. Aku berharap bayi yang lahir akibat hubunganku dengan kekasihku dan aku beri nama Arie Anugrah dapat tumbuh menjadi anak yang berguna, tak seperti aku yang meengecewakan kedua orang tuaku. Aku tak ingin membesarkan anak ini, karena aku tak mau orang tuaku tau bahwa aku hamil di luar nikah.
Sebulan sudah aku titipkan anak ini di panti asuhan, aku tak ingin melihat atau menjenguknya, karena pasti aku akan merasa bersalah jika melihat anak itu. Dan aku putuskan untuk pulang ke kampungku dengan membawa kekasih yang telah memberikan anak padaku, bermaksud untuk meminta restu kepada kedua orang tuaku agar aku dapat segera di nikahkan. Tanpa sepengetahuan mereka bahwa aku sudah memiliki seorang buah hati. Mereka mengabulkan permintaanku dan aku sudah sah menjadi seorang istri dari seorang pria bernama Widoyo anugrah.

***
Aku melepaskan tubuhku di atas kasur. Sepertinya hari ini lebih melelahkan dari hari hari sebelumnya, karena hari ini aku harus membantu ibu panti untuk membenarkan atap panti yang mulai rusak di makan usia. Seperti kalian tau ak tinggal di sebuah panti asuhan. Tak tau apa alasannya yang mengharuskan aku tinggal di sini. Orang tuaku entah ke mana. Pernah sesekali aku menanyakan orang tuaku kepada ibu panti, tetapi yang aku dapatkan hanya gelengan kepala dari beliau. Sepertinya tak ada gunanya aku tanyakan hal itu, tak bermanfaat bagiku. Memang sudah takdirku hidup tanpa orang tua.
            Aku mulai beranjak dewasa, dan mulai mengerti apa yang dimaksud dengan kehidupan. Hari hari aku lewati dengan indah, teman teman di sini membuat aku bahagia. Hingga aku diharuskan agar menjalani hidup dengan senyuman. Dan kini aku sudah menamatkan pendidikanku hingga jenjang kuliah dengan biaya hasil dari keringatku sendiri.
***
            Hidup ini lebih berwarna ketika aku mulai mengenal yang namanya cinta. Aku memiliki seorang sahabat bernama Daratia Inneke. Padanya aku selalu berbagi cerita, sedih maupun senang. Entah kenapa dia selalu memberi solusi yang membuat aku lega. Bagiku dia sangat istimewa. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dari bangku SMP aku sudah berteman dengan dia. Baginya tak aneh lagi jika aku selalu berada di sampingnya. Hidupnya selalu sepi, orang tuanya selalu pergi untuk bertugas. Jadi aku selalu menghiburnya untuk melukiskan senyum di wajah cantiknya itu.
            Dia menangis di pelukanku dan menceritakan masalah di keluarganya. Tak aneh lagi jika dia memiliki masalah seperti itu, orang tuanya memang selalu bertengkar karena kecemburuan. Pekerjaan mereka yang tak sama dan selalu terpisah ke luar kota, mengakibatkan orang tuanya selalu di hantui rasa kecemburuan satu sama lain. Pada konflik kali ini sepertinya masalah yang sedang di alami keluarga inne sangat besar, menyebabkan keputusan yang paling baik adalah dengan cara bercerai. Inne tak bisa berbuat apa apa lagi dengan keputusan kedua orang tuanya. Ia hanya bisa menangis di pelukanku.
“ Sudahlah inne, jangan menangis lagi. Ini tak akan membuat masalahmu selesai.”
  Aku tak menginginkan perpisahan orang tuaku ini terjadi.”
“ Sekarang hapus air matamu itu, pulang lah dan bicara dengan tenang kepada kedua orang tuamu.” Aku memberi saran sambil mengusap air mata di pipi inne.
  Baiklah, aku akan pulang dan berbicara dengan orang tuaku. Semoga ini berhasil ya Arie.” Bangun dari tempat duduknya tersenyum lega.
“ Ya, moga moga sajalah.”
            Inne pulang kerumahnya dan melakukan apa yang di sarankan olehku.
***
            Hari ini cuaca di luar sangat panas, membuat aku merasakan rasa haus yang sangat panas hingga tenggorokanku terasa kering. Tanpa harus buang buang waktu lagi, begitu pulang dari pertemuanku dengan Inne, aku segera membuka kulkas dan mengambil segelas air es. Cukuplah untuk menghilangkan rasa hausku. Langsung menuju kamar untuk beristirahat sejenak. Entah kenapa aku memikirkan Inne yang tadi menangis denganku, merasa bahagia ketika berada di sampingnya. Apakah aku merasakan sebuah cinta padanya, apakah dia juga merasakan hal yang sama. Khayalanku terlalu tinggi, mungkin itu hanya perasaanku saja.
            Tiba tiba bu panti datang membangunkan aku dari lamunan yang membuat aku gila. Kaget dengan kedatangan beliau. Tetapi memang begitulah sifat beliau, selalu hadir di saat kami punya masalah.

“ Ada apa ndukk ? kenapa melamun, tak baik melamun di siang siang hari seperti ini.”
“ Ahh ibu, buatku kaget saja. Untung saja aku tak punya penyakit jantung. Kalau punya matilah aku, sudah masuk rumah sakit aku. Hehee.” Cengengesan tak jelas.
“ Tak biasanya kamu melamun, ada apa sebenarnya yang sedang terjadi nak ?”
“ Tak ada apa apa bu, sepertinya aku jatub cinta pada seorang gadis.”
“ Siapa orangnya, ibu penasaran dengan wanita yang telah membuat kamu jatuh cinta.”
“ Ahh, sudahlah bu. Mungkin ini hanya perasaanku saja, aku tak tau apakah dia juga mempunyai perasaan itu. Aku takut jika cintaku bertepuk sebelah tangan.”
“ Kenapa takut ? kamu belum berusaha, yakinlah bahwa kamu dapat memilikinya. Besok bawa wanita itu, ibu ingin tau.”
  Baiklah bu.”
Bu panti pergi meninggalkan aku sendiri di halaman panti asuhan tempat tinggalku ini.
***
            Aku pergi menemui Inne, bermaksud membawanya ke panti. Seperti yang bu panti mau. Setelah aku merayunya agar mau ikut denganku. Akhirnya ia menurut.
            Sesampai di panti, aku segera membawa Inne menemui bu panti. Kelihatannya bu panti senang dengannya dan memberi senyum yang paling indah dengan Inne. Tak kalah dengan balasan senyum Inne ke Bu panti. Tak terasa hari semakin sore, perbincangan antara aku, Inne dan bu panti harus di akhiri, karena aku harus mengantarkan Inne pulang.
            Di depan rumah Inne yang besar itu aku menghentikan motorku dan ia segera turun. Ketika ia ingin masuk, aku mencegatnya dan tanpa pikir panjang aku menyatakan perasaan cintaku padanya.
“ Ne, aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Sudah lama aku rasakan perasaan ini, tapi aku malu untuk mengungkapkannya.” Aku berbicara sambil menatapnya
Inne tak menjawabnya
“ Apakah kau mau menjadi pendampingku ?” dengan wajah yang sangat memohon.
“ Aku ingin jujur padam­­­­­­­­­u. Sebenarnya aku juga punya perasaan itu. Tentu saja jawabanku aku mau menjadi kekasihmu.”
“ Makasih ya sayang.” Tersenyum sambil mengecup keningnya.
 Dia membalas senyumku dan masuk ke rumah sambil melambaikan tangannya.
Sepertinya orang tua Inne mengetahui hal itu. Ketika ia masuk ke ruang tengah di mana orangtuanya sedang bersantai sambil menonton televisi, tiba tiba saja ia di panggil ayahnya.
“ Inne, sini duduk dulu.” Pinta ayahnya.
Innepun menuruti perkataan ayahnya. Ia duduk di kursi di sebelah ayahnya.
  Yang antar kamu pulang tadi itu pacarmu ya ?”
“ Ya ayah, memangnya kenapa ?”
“ Ayah dapat informasi dia itu tinggal di panti asuhan dan tak punya orang tua ? masa depannya juga tak terjamin. Apakah benar ?”
“ Kenapa ayah bicara seperti itu ? Aku sayang tulus kepadanya ayah.”
“ Ayah dan ibumu tak merestuimu Inne. Ayah tak ingin kamu menderita kelak.”
“ Ayah jahat !!” pergi meninggalkan ayah dan ibu sambil berlari dan menangis

Aku pulang dengan hati yang sangat bahagia, karena aku baru saja mengalami hal yang akan aku ingat seumur hidupku, bahkan sampai aku mati.
***
Pernah aku mengajak Inne jalan jalan mengelilingi kota yang ramai ini menggunakan motor kesayanganku. Saat sedang asik bercanda dengannya, sebuah mobil melintas dengan kecepatan yang sangat kencang dan tiba tiba  menabrak kami. Begitu parahnya sehingga mengakibatkan Inne mengalami luka yang sangat serius dan harus segera di larikan ke rumah sakit. Tindakan pertama yang aku lakukan adalah menelfon orang tua Inne. Rasa takut dengan mereka, aku merasa bersalah dengan keadaan Inne, karena saat Inne mengalami kecelakan itu dia sedang bersamaku. Aku takut orang tua Inne semakin membenciku. Saat mereka datang, mereka langsung memaki makiku, ntah sumpah serapah apa yang telah mereka lontarkan kepadaku. Betapa sakit hatiku ini saat mendengar perkataan orang tue Inne.
            Aku yang terlalu bingung harus berbuat apa saat melihat keadaan ini, langsung memberi tau bu panti dan segera menyuruh beliau agar segera menyusul ke rumah sakit di mana Inne di rawat. Terdengar dari suaranya, sepertinya beliau sangat khawatir. Tak lama setelah aku mondar mandir tak karuan, akhirnya bu panti datang dengan wajah yang sangat cemas, beliau langsung menanyakan Inne. Aku menunjukkan ruangan yang di mana Inne sedang terbaring lemah, beliau langsung berlari menuju Inne. Tak dapat menahan air mata, akhirnya ibu panti menangis. Walaupun Inne bukan anaknya, namun beliau memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar.
 Ketika orang tua Inne datang, bu panti tertegun kaget melihat mereka. Entah kenapa sebabnya, sepertinya mereka sudah saling kenal, berbincang bincang tanpa menghiraukan kehadiranku. Setelah lama berbincang, bu panti menunjuk ke arahku dan menyuruhku mendekati mereka. Betapa kagetnya aku ketika mereka mengatakan aku adalah anak mereka, dan orang yang sedang terbaring itu adalah adik kandungku. Tak pernah aku bayangkan aku jatuh cinta pada adikku sendiri.
***
            Setelah dua hari Inne tak sadarkan diri akibat kecelakaan itu, akhirnya ia membuka matanya yang indah itu. Gembiranya aku, tak bedanya seperti orang tua Inne yg ternyata mereka juga orang tuaku. Inne belum mengetahui hal ini, kami bermaksud untuk menyembunyikan hal ini terlebih dahulu yang dikarenakan kondisi Inne yang masih lemah. Jika saatnya telah tiba, pasti kami akan memberi tahunya tentang ini.
            Inne yang sudah agak baikkan dan hari ini ia sudah boleh pulang ke rumah dan menjalani hidup secara normal, walaupun tangan kirinya yang masih belum sembuh total. Sepertinya ia heran dengan keadaan ini, keadaan di mana orang tuanya tidak marah saat aku mendekatinya. Ia yang heran dan langsung bertanya pada kami saat waktu makan malam bersama. Sesungguhnya kami belum ingin ia tahu, tetapi karena ia yang terus mendesak akhirnya ayah membuka semua rahasia itu. Sontak Inne kaget, berlari sambil membawa air matanya yang jatuh itu. Sepertinya ia tidak bisa menerima ini, awalnya aku juga seperti itu, namun setelah aku berfikir lebih dalam dan aku menyadari bahwa inilah cerita hidup yang harus aku jalani.
            Matahari telah hilang dan digantikan dengan bulan. Inne belum juga pulang. Mencari cari ke seluruh kota, ternyata ia sedang duduk di taman. Sekilas sepertinya Inne baik baik saja, namun seteelah di perhatikan ternyata ia baru saja meneguk racun dengan bekas botol yang masih ada digenggaman tangannya. Inne tak dapat di tolong, Karena kami terlambat menemukannya. Inne pergi untuk selamanya. Ia terbang bebas ke manapun ia mau. Semoga tuhan bisa mengampuni semua dosa dosanya dan menempatkannya di tempat yang paling indah.
***
            Setelah kepergia Inne, hubunganku dengan keluarga amat sangat baik. Aku memutuskan untuk tinggal dengan mereka, karena mereka adalah orang tua kandungku. Aku merasakan kebahagiaan ini. Mama memutuskan untuk berhenti kerja dan focus pada rumah tangga.
***
            Hari ini adalah hari pernikahanku. Setelah 5 tahun kepergian Inne, aku menemukan seorang gadis yang berhati suci dan indah parasnya, ia mencerminkan hal hal yang ada di diri Inne. Mungkin ini adalah Inne yang beda dan harus aku jaga agar aku tak kehilangan orang yang kusayang uuntuk yang kedua kalinya. Aku harap aku bisa bahagia dengan kekasihku ini dan sekarang adalah seorang istri bagiku.
            Seusai akad nikah dilaksanakan, aku, istriku, dan keluarga yang lainnya berziarah ke makam Inne. Membawa kebahagian, membaginya dengan Inne. Aku yakin, ia sekarang sedang tersenyum melihatku bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar